Translate

Temukan Blueprint Rahasia untuk Meraih Ribuan Dollar melalui Affiliate Marketing
English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Click My Ads

Pasang Iklan Gratis - promosigratis.com
Pemanasan Global Membuat Laut Tidak Asin Lagi
Rabu, Mei 25, 2011 | Author: I_G.O_Y
Semua orang tahu bahwa air laut tidak enak diminum langsung karena asin. Tapi tanpa kita sadari kandungan garam di lautan sebenarnya sedang menurun. Ini merupakan tanda-tanda yang bisa berakibat buruk, yang sejauh ini belum bisa diramalkan secara pasti.

Sejak akhir tahun 1960-an, sebagian besar air Samudra Atlantik Utara menjadi kurang asin. Penyebabnya adalah peningkatan jumlah air tawar yang masuk ke laut akibat pemanasan global. Kini untuk pertama kalinya para peneliti mengukur aliran air tawar yang masuk, memungkinkan mereka untuk memperkirakan efek jangka panjang terhadap lautan dunia.

Menurut para peneliti, perubahan iklim di belahan Bumi utara telah melelehkan gletser dan membawa lebih banyak hujan. Ini menyebabkan lebih banyak air tawar mengalir ke laut. Akibat langsungnya adalah kenaikan permukaan air laut dan tenggelamnya wilayah pesisir. Tetapi itu belum semua. Masih ada efek samping lainnya.

"Hujan dan aliran air di wilayah tinggi telah meningkat," kata Ruth Curry dari Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI). "Selama dekade terakhir, air tawar telah terkumpul di lapisan Laut Nordic bagian atas, terutama hingga kedalaman 1.000 meter. Ini adalah sesuatu yang harus diwaspadai."

Curry dan Cecilie Mauritzen dari Norwegian Meteorological Institute memperhitungkan ada ekstra 19.000 kilometer kubik air mengalir ke laut utara antara tahun 1965 hingga 1995.

Sebagai perbandingan, Sungai Mississippi mengalirkan sekitar 500 kilometer kubik air tawar ke Teluk Meksiko tiap tahun. Sedangkan Amazon, sungai terbesar dunia, memasok sekitar 5.000 kilometer kubik air ke lautan setiap tahun.

Karena air dengan kadar garam rendah itu kurang padat, maka menambahkan air tawar ke laut bisa mempengaruhi alirannya - seperti sistem arus Atlantik yang mempertemukan air dingin dari wilayah Artik dengan air hangat dari daerah tropis.

Bagian atas arus ini terdiri dari aliran air hangat, seperti arus teluk, yang bergerak ke utara di sepanjang permukaan laut. Di wilayah lintang yang tinggi, arus ini menjadi dingin dan menuju ke bawah - melepaskan panas ke atmosfer dan menyebabkan iklim dingin yang tidak membekukan di wilayah-wilayah seperti Inggris.

Nah, bila banyaknya air tawar yang masuk ke laut mengubah aliran ini - baik musiman maupun jangka panjang - maka ia akan mempengaruhi banyak hal, mulai terbentuknya badai hingga banjir dan udara panas.

Sejauh ini memang belum ada perubahan signifikan yang diteliti berkaitan dengan makin banyaknya air tawar yang masuk ke laut. Namun Curry dan Mauritzen memperkirakan perubahan seperti itu akan terjadi bila pemanasan global terus berlangsung.
Sesungguhnya hingga saat ini masih ada perdebatan mengenai apakah planet kita ini menjadi makin panas, dan seberapa besar manusia berperan dalam pemanasan itu. Namun sebagian besar ahli iklim melihat adanya kecenderungan untuk menjadi lebih panas, yang diperkirakan akan terus berlangsung setidaknya satu abad ke depan.

Sumber : KOMPAS
This entry was posted on Rabu, Mei 25, 2011 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 Comment:

Backling Exchange