Naiknya permukaan air laut telah mendorong 100 orang penduduk sebuah pulau di Samudera Pasifik berpindah ke lokasi yang lebih tinggi. Ini adalah dampak pemanasan global yang jelas terlihat kerugiannya bagi sebuah komunitas.
Pohon-pohon kelapa yang ada di pinggir pantai telah terendam air dan para penduduk Lateu di Pulau Tegua, Vanuatu mulai membongkar rumah kayunya dan berpindah ke pulau di dekatnya yang 600 meter lebih tinggi.
"Mereka tidak dapat tinggal lebih lama lagi di pantai," kata Taito Nakalevu, seorang ahli perubahan iklim di Sekretariat Program Lingkungan untuk Regional Pasifik, saat menghadiri konferensi untuk melawan perubahan iklim di Montreal yang dihadiri 189 negara.
Air pasang yang tinggi karena badai menjadi semakin besar dalam tahun-tahun terakhir dan menyebabkan Lateu tidak lagi berpenghuni karena sering disapu banjir antara 4 hingga 5 kali dalam setahun. "Kami melihat pasang yang tinggi menyapu pulau-pulau di sana," katanya.
Program Lingkungan PBB (UNEP) menyatakan bahwa wilayah Lateu menjadi salah satu - kalau tidak boleh dikatakan yang pertama - daerah yang secara formal berpindah karena pengaruh buruk perubahan iklim.
Panel ilmuwan yang memberi saran pada PBB memperkirakan, permukaan air laut akan naik paling tidak satu meter pada 2100 karena melelehnya es sebagai dampak pemanasan global yang dipicu terjebaknya panas di atmosfer. Gas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil di pembangkit listrik, pabrik, dan mobil adalah penyebab efek yang disebut rumah kaca itu.
Banyak komunitas pantai lainnya yang terancam karena kenaikan air laut, misalnya New Orleans di AS, Venesia di Italia, atau pemukiman di Kutub Utara. Mencairnya gletser dan gunung es menyebabkan erosi pantai oleh gelombang air laut.
Penduduk Pasifik yang kebanyakan tinggal di pulau karang adalah kelompok paling beresiko. Sekitar 2.000 penduduk Kepulauan Cantaret di Papua New Guinea berencana pindah ke pulau tedekat Bougainville. untuk mencapai pulau tersebut diperlukan 4 jam perjalanan menggunakan kapal cepat.
Dua pulau tak berpenghuni di Kiribati yaitu Tebua Tarawa dan Abenuea, tenggelam pada 1999. "Di Tegua, para penduduknya telah berpindah dimulai oleh ketuanya sebelum memulai proses perpindahan yang diikuti para penduduk lainnya," kata Nakalevu. Sebuah gereja juga ikut dibongkar dan dipindahkan di pulau terdekat.
Menurut Nakalevu, naiknya permukaan air laut mungkin dipengaruhi pemanasan global. Pulau karang seluas 30,72 kilometer persegi itu mungkin telah menyusut. Saat ini, para penduduknya mengandalkan ubi jalar dan biji-bijian yang ditanam di tanaman yang lebih tinggi.
Untuk membantu Lateu, Pemerintah Kanada menyediakan 40 ribu dollar AS untuk membangun sistem penampung air hujan yang sanggup menyimpan 30 ribu liter air. Dengan demikian penduduk yang tinggal di pulau tidak tergantung pada sumber mata air di pulau.
Di Kutub Utara, penduduk asli yang tinggal di Shismaref, Alaska dan Tuktoyaktuk di Kanada berpikir untuk berpindah karena perubahan iklim. "Penduduk Arktik dan pulau-pulau kecil di dunia menghadapai ancaman yang sama," kata Klaus Toepfer, direktur eksekutif UNEP.
Kecenderungan ini patut dipikirkan setiap orang, sebab, lanjut Klaus, mencair dan menyusutnya es dan naiknya permukaan air laut, bertambah hebatnya badai, dan sejenisnya adalah tahap awal dari dampak yang lebih besar yang kelak akan dihadapi oleh setiap orang di Bumi.
Ini lah malapetaka yang dibuat oleh ulah manusia sendiri, mari kita jaga, lestarikan dan rawat bumi kita. Demi hidup yang lebih berarti untuk masa depan generasi penerus yang akan melanjutkan kelestarian bumi ini. SAVE OUR EARTH.....!!!































0 Comment: